4 Comments

Lelaki Langit

Lelaki langit, sebut saja ia begitu. Aku pun tak tahu lagi harus menyebutnya dengan sebutan apa. Terlebih jika mengingat akhlaknya yang kian elok menurutku. Dan ku pikir, bukan hanya aku saja yang beranggapan demikian. Aku sudah kekurangan ide pula, jika ternyata memang sebutan itu terlalu berlebihan baginya. Biarlah itu menjadi penghargaan baginya.

Jujur, aku kagum padanya. Bukan karena ia lelaki dan aku perempuan. Bukan itu. Sama sekali bukan. Memang, tidak bisa dipungkiri sebagai lelaki banyak yang menilai bahwa ia memiliki kelebihan dalam segi fisik dan otak yang cerdas. Tetapi bukan itu sudut pandang yang ingin ku bahas. Kali ini lebih dari itu. Tentang perangainya yang dikenal sangat wara’ (sikap menahan diri dari perkara yang membahayakan, seperti meninggalkan perkara yang samar dalam hukum dan hekikatnya. Sikap ini mencakup menahan diri atau berhati-hati dalam memandang, berbicara, memakan, mendengar, urusan syahwat, serta jual beli).

Sebenarnya, aku pun tidak pernah mengenalinya. Hanya sekedar mengetahuinya dari jauh. Lantas, bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkan kisah tentangnya ini? Aku cukup dekat dengan keluarganya, terlebih dengan adiknya yang usianya terpaut tiga tahun di atasku. Beberapa kali pun, aku pernah menginap di rumah kakaknya yang seorang penghapal Al-Qur’an. Keluarganya memang dikenal sebagai keluarga yang berakhlak baik dan sholih. Ia anak ke tujuh dari delapan bersaudara. Dan di antara keluarganya, ia pun dikenal sebagai anak yang paling patuh pada orang tuanya.

Aku pun tak hanya tahu perangainya yang baik itu dari keluarganya, namun juga dari rekan kerja, beberapa adik tingkat, teman kampusnya, bahkan murrabiyah-ku sendiri yang bekerja di satu tempat yang sama dengan lelaki itu.

Adiknya seringkali berkata, “Ia benar-benar seperti Al-Qur’an berjalan bagiku. Dia juga tempat yang nyaman bagiku untuk bertanya apapun. Satu hari, aku pernah bersenandung melantunkan sebuah lagu untuk menghibur suasana hati. Tiba-tiba dari arah samping ia datang menyapaku: ‘Wahai adikku, seandainya yang kau senandungkan itu adalah Al-Qur’an’. Aku pun diam dan terhenyak olehnya seketika.”

Sehari-hari ia tak pernah tidur dengan kasur. Hanya sebuah karpet saja sudah cukup baginya. Yang ku dengar memang ia tak ingin berlebih-lebihan dalam hal itu. Ia tak ingin melebihi Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam yang semasa hidupnya memilih hidup sederhana dengan tidur beralaskan jerami. Di mana setiap kali beliau terbangun maka sebagian dari jerami itu menempel di punggung beliau yang mulia, hingga membuat sahabat Umar bin Khatab yang melihat kondisi itu menangis karena tidak tega melihat kondisi seorang pemimpin besar yang begitu berbeda dengan raja-raja yang ada pada saat itu. Di kala itu, biasanya mereka memiliki istana yang megah dan semua fasilitas yang demikian mewah yang biasanya sangat berbeda dengan kehidupan rakyat yang dipimpinnya. Padahal jikalau Rasulullah mau, ia pun mampu melakukannya.

Di samping itu, ia adalah seorang pembelajar. Ia dikenal sebagai orang yang memiliki kompetensi yang baik di tempat kerjanya. Sederhana dan tak berlebih-lebihan dalam menggunakan teknologi, serta tak satupun waktu yang ia lewatkan percuma selain untuk belajar dan melakukan apapun yang bermanfaat.

Sampai hari ini, ia senantiasa berusaha menjalankan sunnah-sunnah Rasul mulai dari yang terkecil, yang bisa jadi terdengar remeh bagi sebagian kita. Seperti meminum madu, memelihara jenggot, dan masih banyak lainnya yang tak dapat ku sebutkan satu-persatu. Semua itu ia jadikan sebagai amalan utama bagi dirinya. Dan satu hal lainnya yang sampai saat ini ia tidak tinggalkan adalah menyegerakan sholat yang selalu ia tunaikan di masjid dengan berjama’ah. Tentu ia tak mau kalah dengan para sahabat Nabi itu. Para sahabat yang bahkan meskipun mereka buta, tetap pergi ke masjid untuk sholat berjama’ah walau harus bersusah payah dipapah. Nasihat yang pernah dilontarkannya pada Sang adik, “Jika menjalankan sunnah-sunnah yang kecil saja kita sudah merasa jenuh dan lalai, bagaimana bisa kita berkomitmen menjalankan sunnah-sunnah Rasul yang lebih besar?”

Pernah pula suatu hari aku menginap di rumah kakaknya, ketika kami semua sedang mempersiapkan sebuah Daurah Qur’an bagi para pelajar. Aku di waktu itu dimintai bantuan untuk mempersiapkan beberapa hal teknis terkait acara. Alhasil, untuk memudahkan koordinasi aku pun harus menginap. Ayahnya merupakan seorang ketua dari sebuah organisasi yang cukup tua dan populer di masa dahulu, serta merupakan salah satu organisasi Islam yang pertama muncul di masa perjuangan dulu. Program yang kini sering diadakan oleh organisasi itu salah satunya adalah daurah (pelatihan) tersebut. Ada sebuah cerita yang menarik tentangnya. Untuk kelengkapan acara, lelaki itulah yang mempersiapkan baliho dan spanduk bagi acara. Namun, di hari pengambilan baliho dan spanduk, ia meminta tolong salah seorang keluarganya. Setelah mendapati sebuah baliho terdapat seutas tambang sepanjang satu jengkal terikat di baliho tersebut dengan hati-hati ia simpan tambangnya. Lantas kemudian ia sampaikan kepada keluarganya itu, “Dik, tolong kembalikan tambang ini. Ini bukanlah hak kita. Yang kita beli hanyalah baliho dan spanduk ini.”

Lantas saudaranya menjawab, “Kenapa harus dikembalikan, toh saya kira si pemilik toko tak akan mencarinya. Saya pikir, tambang yang panjangnya hanya sejengkal ini tak cukup berarti baginya.”
“Aku hanya tidak ingin hal ini menjadi penghambatku untuk melangkah ke surgaNya.” tungkas Sang lelaki. Pesannya sungguh menyesap hingga ke hati.

Ia sangat sederhana dalam apapun. Bersikap, bertutur, hingga berpenampilan. Perhatian pada keluarga dan sangat menjaga kemaluannya terlebih kepada lawan jenis. Mungkin apa yang ia lakukan sangatlah sederhana. Hanya saja, kontinuitas dan komitmennya dalam melakukan itu semua, aku rasa sudah sangat langka ditemui di sekeliling kita saat ini. Belum lagi jika harus menghadapi godaan yang tidak dipungkiri lebih hebat menggeliat di sana-sini. Ia pun tak pernah berbangga hati atas apa yang dilakukannya. Semoga kita pun dapat turut meneladani kebaikan akhlak lelaki itu. Lelaki langit yang bersahaja demi mencapai destinasi langit melalui etape-etape suci yang diajarkan oleh para pendahulunya. Tak mudah, namun bukan berarti tak mungkin.

Advertisements

4 comments on “Lelaki Langit

  1. kak ega… izin Reblog y, boleh? 😉

  2. Reblogged this on R.H.'s Blog and commented:
    Suka dengan kata terakhir ‘Tak mudah, namun bukan berarti tak mungkin’. Gw selalu menggunakan kata-kata ini soalnya buat motivasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: